Salmonela
Salmonela adalah bakteri yang biasa terdapat dalam
sayuran dan bahan makanan mentah lainnya. Bakteri ini tidak jarang menimbulkan
penyakit pada manusia. Untungnya, kini para ilmuwan telah mengembangkan cara
efektif untuk melumpuhkan bakteri tersebut. Salah satunya adalah dengan menggunakan jenis
bakteri lain yang tangguh untuk melawan bakteri yang membawa penyakit. Bakteri yang
menguntungkan tersebut disuntikkan ke dalam tubuh anak ayam atau ditambahkan ke
pakannya.
Sayangnya, penelitian yang dilakukan di AS dan
negara lainnya selama tiga
dekade terakhir ini belum berhasil membuat
kultur bakteri murni karena biasanya masih mengandung jenis bakteri yang tidak teridentifikasi.
Dikhawatirkan, kultur bakteri tersebut mengandung
patogen yang akan merugikan, sehingga penggunaannya terbatas atau dalam beberapa kasus dilarang.
Lebih lanjut, larutan baru yang berisi bakteri
menguntungkan saja, yaitu Enterobacteriaceae dan bakteri asam
laktat, biasa disebut dengan kultur probiotik. Bakteri tersebut terbukti efektif
melawan penyakit dalam tubuh manusia. Yoghurt adalah contoh klasiknya, mengandung
bakteri-bakteri menguntungkan yang siap dan aman dijadikan sebagai asupan
tambahan. Jika menginfeksi tubuh manusia, salmonela umumnya menyebabkan diare,
demam, dan nyeri usus selama
7 hari. Pada kasus yang parah, bisa menyebabkan kematian. Meskipun memasak
dapat membunuh bakteri, tetapi bakteri masih dapat menempel pada sayuran mentah
atau makanan jika tangan pemasaknya tidak dicuci.
Laktokokus pada Yoghurt
Secara alami, bakteri Lactococcus
lactis menghasilkan asam susu yang digunakan untuk membuat keju dan yoghurt. Bakteri tersebut tidak berbahaya bagi
tubuh manusia. Para peneliti di Brown
Medical School Rhode Island mengubah susunan genetik bakteri sehingga dapat
menghasilkan cyanovirin. Berdasarkan
laporan dalam jurnal Nature, zat
kimia tersebut dapat menghambat infeksi HIV pada tubuh monyet dan sel manusia.
Siapa yang menyangka bahwa bakteri yang berperan
dalam proses pembuatan yoghurt juga dapat menghasilkan zat penghambat HIV. Cyanovirin akan mengikat molekul gula yang menempel pada
virus HIV untuk menghambat sel
reseptor yang akan digunakan oleh HIV. Bakteri ini kemudian menjadi alternatif pengobatan untuk HIV. Cyanovirin dapat dikemas ke dalam gel yang bisa dioleskan di
sekitar alat kelamin sebelum melakukan hubungan
seksual. Para peneliti memperkirakan, bentuk pil atau tablet mungkin
dapat memberikan perlindungan yang lebih lama.
Pseudomonas pada Tempe
Tempe adalah jenis makanan yang dikosumsi oleh semua
kalangan. Tempe dapat dibuat dari kedelai putih atau hitam, bungkil kacang tanah, dan
bahan lain. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, penduduk setempat membuat tempe yang dicampur dengan bahan
kelapa. Tempe ini biasa disebut bongkrek. Bongkrek yang tidak di masak dengan
benar sering kali menyebabkan keracunan yang berakhir dengan kematian orang yang memakannya. Racun pada
bongkrek ini di hasilkan oleh bakteri Clostridium
cocovenenans.
Bakteri Prebiotik dalam Minuman Kefir
Minuman yang rasanya asam dan segar, seperti yoghurt
dan kefir, dibuat dari susu sapi yang telah dipasteurisasi lalu difermentasi dengan
bibit/biji kefir (kefir grains). Bakteri dan ragi yang terdapat
dalam kefir secara alami menyatu dan saling menguntungkan (simbiotik)
sehingga memberi keuntungan bagi
kesehatan jika dimimun secara teratur. Kefir mengandung banyak
bakteri yang baik (bakteri probiotik)
dan ragi (yeast) juga mengandung
banyak mineral dan asam amino esensial, seperti triptofan yang dapat
membantu memberi efek menenangkan sistem saraf.
Keuntungan mengonsumsi kefir secara teratur dalam
diet antara lain mudah
dicerna, dapat membersihkan usus, menekan
bakteri patogen, dan meningkatkan jumlah bakteri menguntungkan. Selain itu,
kefir juga mengandung vitamin, mineral, dan protein yang lengkap yang dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan
membunuh virus bagi para penderita
AIDS dan juga bermanfaat bagi penderita lelah saraf menahun (sindrom
kelelahan kronik), herpes, serta kanker.
Kefir sendiri juga merupakan minuman bermanfaat yang dapat menjaga
keseimbangan flora normal tubuh karena ragi yang terdapat dalam kefir dapat melawan Candida albicans yang menyebabkan infeksi pada saluran kemih. Selama proses
fermentasi, bakteri baik yang ada dalam kefir menghasilkan enzim laktase yang
fungsinya memperkuat protein dalam susu yang dapat membantu proses penyerapan pada usus dua belas jari, sehingga membantu proses pencernaan agar optimal.
Penelitian ilmiah di beberapa negara menunjukkan
bahwa kefir memiliki potensi yang besar sebagai anti-tumor dan bertindak sebagai zat
atau agens anti-kanker (anti-carcinogenic agents). Kefir
menghasilkan zat-zat antibiotik yang dapat
memusnahkan bakteri yang merugikan. Kefir juga digunakan sebagai pengobatan
jerawat dengan cara memperbaiki ekosistem bakteri dalam usus sehingga, dalam beberapa
kasus, jerawat dapat musnah dengan
sendirinya. Bakteri yang
menguntungkan menghasilkan berbagai
macam vitamin B, seperti B3, B6, dan asam folat.
Beberapa bakteri probiotik yang terkandung dalam kefir dibagi
ke dalam 4 kelompok genus,
yaitu :
1. Genus Lactobacillus
(L. casei, L. lactis, L. bulgaricus, L.
acidophilus)
2. Genus Acetobacter
(A. saceti, A. rasen)
3. Genus Streptococcus
(S. lactis, S. salivarus, S. thermophilus)
4. Ragi (Candida
pseudotropicalis, Saccharomyces sp).
Escherichia coli dalam Makanan
Escherichia coli tentu tidak asing di telinga kita.
Jutaan jumlah bakteri jenis ini normalnya
akan selalu ditemukan di dalam usus hewan dan manusia. Kebanyakan jenis bakteri ini tidak membahayakan
atau tidak bersifat patogen. Justru sebaliknya,
bakteri ini dapat membantu dalam proses pencernaan makanan, menekan pertumbuhan
bakteri lain yang berbahaya, dan dapat
menyintesis beberapa jenis vitamin untuk proses metabolisme dalam tubuh.
Sejumlah kecil bakteri E. coli juga dapat menyebabkan sakit perut ringan sampai berat dengan
beberapa mekanisme infeksi yang berbeda. Sebagai contoh, sejumlah orang menderita gangguan
pencernaan akibat mengonsumsi hamburger yang disajikan oleh salah satu restoran cepat saji. Hamburger diduga telah terkontaminasi oleh bakteri E. coli dari strain O 157:H7. Mengolah
bahan makanan dengan temperatur di bawah 600C masih memungkinkan sel
bakteri untuk hidup dan menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan akibat reaksi
toksin yang dihasilkannya.
Bakteri E. coli strain O 157:H7 sering disebut juga sebagai bakteri enterohaemorragic
Escherichia coli (EHEC). Timbulnya gejala diare, kram perut, demam, serta muntah
darah perlu diwaspadai sebagai gejala penyakit yang disebabkan bakteri yang sangat virulen
ini. Penyakit ini ditularkan melalui produk-produk hewani atau makanan yang
tercemar produk hewani. Akan tetapi, selain penularan melalui produk
hewani, sayuran mentah yang tidak dicuci bersih sebelum dikonsumsi juga dapat menjadi
sumber penyakit.
E. coli juga menyebabkan
banyak kasus
infeksi pada saluran kemih atau yang biasa disebut haemolytic ureamic syndrome (HUS) yang ditandai dengan gejala hancurnya
sel-sel darah merah. Bakteri ini memiliki
satu keistimewaan, yaitu mampu menghasilkan toksin berbahaya yang disebut verotoksin (VT) yang dapat
menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah
dinding usus dan organ ginjal. Toksin ini identik dengan toksin yang dihasilkan oleh bakteri Shigella. Jika toksin sudah sampai di organ ginjal, kondisi penderita dapat bertambah parah.
Sel endotel pada glomerulus ginjal memiliki
reseptor khusus yang mampu berikatan dengan toksin dari bakteri ini. Kerusakan pada pembuluh darah terjadi akibat
adanya ikatan dengan toksin yang
dinamakan globotriaosylceramide
tersebut. Selanjutnya, infeksi bisa berkembang menjadi HUS. Urine akan bercampur dengan darah (hematuria), timbul gejala
anemia, bahkan bisa terjadi disfungsi
ginjal. Dialisis (cuci darah) merupakan satu-satunya pilihan pengobatan
yang diharapkan dapat memperpanjang
usia.
Gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas
biasanya mulai terlihat dalam 2-4 hari, bahkan dapat mencapai 8 hari setelah bakteri E. coli O 157:H7 menginfeksi sel tubuh. Tidak seperti
pengobatan pada kasus-kasus infeksi bakteri pada umumnya, pengobatan dengan pemberian antibiotik justru
dapat memperparah kondisi ginjal dan usus,
karena dapat meningkatkan produksi toksin dan meningkatkan penyerapannya pada kedua organ tersebut. Tidak ada bukti yang
memperlihatkan bahwa senyawa antibiotik
yang diberikan dapat memperbaiki kondisi fisik penderita. Kebanyakan orang
akan sembuh dengan sendirinya dalam 5 - 10 hari. Pemberian obat-obat antidiare seperti
loperamide juga sebaiknya dihindari. Jadi, tindakan yang bisa dilakukan adalah berusaha memulihkan keseimbangan
elektrolit tubuh dan menanggulangi gejala anemia yang
muncul.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar