Selasa, 02 Februari 2016

Bakteri yang baik buat tubuh




Salmonela
Salmonela adalah bakteri yang biasa terdapat dalam sayuran dan bahan makanan mentah lainnya. Bakteri ini tidak jarang menimbulkan penyakit pada manusia. Untungnya, kini para ilmuwan telah mengembangkan cara efektif untuk melumpuhkan bakteri tersebut. Salah satunya adalah dengan menggunakan jenis bakteri lain yang tangguh untuk melawan bakteri yang membawa penyakit. Bakteri yang menguntungkan tersebut disuntikkan ke dalam tubuh anak ayam atau ditambahkan ke pakannya.
Sayangnya, penelitian yang dilakukan di AS dan negara lainnya selama tiga dekade terakhir ini belum berhasil membuat kultur bakteri murni karena biasanya masih mengandung jenis bakteri yang tidak teridentifikasi. Dikhawatirkan, kultur bakteri tersebut mengandung patogen yang akan merugikan, sehingga penggunaannya terbatas atau dalam beberapa kasus dilarang.
Lebih lanjut, larutan baru yang berisi bakteri menguntungkan saja, yaitu Enterobacteriaceae dan bakteri asam laktat, biasa disebut dengan kultur probiotik. Bakteri tersebut terbukti efektif melawan penyakit dalam tubuh manusia. Yoghurt adalah contoh klasiknya, mengandung bakteri-bakteri menguntungkan yang siap dan aman dijadikan sebagai asupan tambahan. Jika menginfeksi tubuh manusia, salmonela umumnya menyebabkan diare, demam, dan nyeri usus selama 7 hari. Pada kasus yang parah, bisa menyebabkan kematian. Meskipun memasak dapat membunuh bakteri, tetapi bakteri masih dapat menempel pada sayuran mentah atau makanan jika tangan pemasaknya tidak dicuci.
Laktokokus pada Yoghurt
Secara alami, bakteri Lactococcus lactis menghasilkan asam susu yang digunakan untuk membuat keju dan yoghurt. Bakteri tersebut tidak berbahaya bagi tubuh manusia. Para peneliti di Brown Medical School Rhode Island mengubah susunan genetik bakteri sehingga dapat menghasilkan cyanovirin. Berdasarkan laporan dalam jurnal Nature, zat kimia tersebut dapat menghambat infeksi HIV pada tubuh monyet dan sel  manusia.
Siapa yang menyangka bahwa bakteri yang berperan dalam proses pembuatan yoghurt juga dapat menghasilkan zat penghambat HIV. Cyanovirin akan mengikat molekul gula yang menempel pada virus HIV untuk menghambat sel reseptor yang akan digunakan oleh HIV. Bakteri ini kemudian menjadi alternatif pengobatan untuk HIV. Cyanovirin dapat dikemas ke dalam gel yang bisa dioleskan di sekitar  alat kelamin sebelum melakukan hubungan seksual. Para peneliti memperkirakan, bentuk pil atau tablet mungkin dapat memberikan perlindungan yang lebih lama­.
Pseudomonas pada Tempe
Tempe adalah jenis makanan yang dikosumsi oleh semua kalangan. Tempe dapat dibuat dari kedelai putih atau hitam, bungkil kacang tanah, dan bahan lain. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, penduduk setempat membuat tempe yang dicampur dengan bahan kelapa. Tempe ini biasa disebut bongkrek. Bongkrek yang tidak di masak dengan benar sering kali menyebabkan keracunan yang  berakhir dengan kematian orang yang memakannya. Racun pada bongkrek ini di hasilkan oleh bakteri Clostridium cocovenenans.
Bakteri Prebiotik dalam Minuman Kefir
Minuman yang rasanya asam dan segar, seperti yoghurt dan kefir, dibuat dari susu sapi yang telah dipasteurisasi lalu difermentasi dengan bibit/biji kefir (kefir grains). Bakteri dan ragi yang terdapat dalam kefir secara alami menyatu dan saling menguntungkan (simbiotik) sehingga memberi keuntungan bagi kesehatan jika dimimun secara teratur. Kefir mengandung banyak bakteri yang baik (bakteri probiotik) dan ragi (yeast) juga mengandung banyak mineral dan asam amino esensial, seperti triptofan yang dapat membantu memberi efek menenangkan sistem saraf.
Keuntungan mengonsumsi kefir secara teratur dalam diet antara lain mudah dicerna, dapat membersihkan usus, menekan bakteri patogen, dan meningkatkan jumlah bakteri menguntungkan. Selain itu, kefir juga mengandung vitamin, mineral, dan protein yang lengkap yang dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan membunuh virus bagi para penderita AIDS dan juga bermanfaat bagi penderita lelah saraf menahun (sindrom kelelahan kronik), herpes, serta kanker.
Kefir sendiri juga merupakan minuman bermanfaat yang dapat menjaga keseimbangan flora normal tubuh karena ragi yang terdapat dalam kefir dapat melawan Candida albicans yang menyebabkan infeksi pada saluran kemih. Selama proses fermentasi, bakteri baik yang ada dalam kefir menghasilkan enzim laktase yang fungsinya memperkuat protein dalam susu yang dapat membantu proses penyerapan pada usus dua belas jari, sehingga membantu proses pencernaan agar optimal.
Penelitian ilmiah di beberapa negara menunjukkan bahwa kefir memiliki potensi yang besar sebagai anti-tumor dan bertindak sebagai zat atau agens anti-kanker (anti-carcinogenic agents). Kefir menghasilkan zat-zat antibiotik yang dapat memusnahkan bakteri yang merugikan. Kefir juga digunakan sebagai pengobatan jerawat dengan cara memperbaiki ekosistem bakteri dalam usus sehingga, dalam beberapa kasus, jerawat dapat musnah dengan sendirinya. Bakteri yang menguntungkan menghasilkan  berbagai macam vitamin B, seperti B3, B6, dan asam folat.
Beberapa bakteri probiotik yang terkandung dalam kefir dibagi ke dalam 4 kelompok genus, yaitu :
1.      Genus Lactobacillus (L. casei, L. lactis, L. bulgaricus, L. acidophilus)
2.      Genus Acetobacter (A. saceti, A. rasen)
3.      Genus Streptococcus (S. lactis, S. salivarus, S. thermophilus)
4.      Ragi (Candida pseudotropicalis, Saccharomyces sp).
Escherichia coli dalam Makanan
Escherichia coli tentu tidak asing di telinga kita. Jutaan jumlah bakteri jenis ini normalnya akan selalu ditemukan di dalam usus hewan dan manusia. Kebanyakan jenis bakteri ini tidak membahayakan atau tidak bersifat patogen. Justru sebaliknya, bakteri ini dapat membantu dalam proses pencernaan makanan, menekan pertumbuhan bakteri lain yang berbahaya, dan dapat menyintesis beberapa jenis vitamin untuk proses metabolisme dalam tubuh.
Sejumlah kecil bakteri E. coli juga dapat menyebabkan sakit perut ringan sampai berat dengan beberapa mekanisme infeksi yang berbeda. Sebagai contoh, sejumlah orang menderita gangguan pencernaan akibat mengonsumsi hamburger yang disajikan oleh salah satu restoran cepat saji. Hamburger diduga telah terkontaminasi oleh bakteri E. coli dari strain O 157:H7. Mengolah bahan makanan dengan temperatur di bawah 600C masih memungkinkan sel bakteri untuk hidup dan menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan akibat reaksi toksin yang dihasilkannya.
Bakteri E. coli strain O 157:H7 sering disebut juga sebagai bakteri enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Timbulnya gejala diare, kram perut, demam, serta muntah darah perlu diwaspadai sebagai gejala penyakit yang disebabkan bakteri yang sangat virulen ini. Penyakit ini ditularkan melalui produk-produk hewani atau makanan yang tercemar produk hewani. Akan tetapi, selain penularan melalui produk hewani, sayuran mentah yang tidak dicuci bersih sebelum dikonsumsi juga dapat menjadi sumber penyakit.
E. coli juga menyebabkan banyak kasus infeksi pada saluran kemih atau yang biasa disebut haemolytic ureamic syndrome (HUS) yang ditandai dengan gejala hancurnya sel-sel darah merah. Bakteri ini memiliki satu keistimewaan, yaitu mampu menghasilkan toksin berbahaya yang disebut verotoksin (VT) yang dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dinding usus dan organ ginjal. Toksin ini identik dengan toksin yang dihasilkan oleh bakteri Shigella. Jika toksin sudah sampai di organ ginjal, kondisi penderita dapat bertambah parah. Sel endotel pada glomerulus ginjal memiliki reseptor khusus yang mampu berikatan dengan toksin dari bakteri ini. Kerusakan pada pembuluh darah terjadi akibat adanya ikatan dengan toksin yang dinamakan globotriaosylceramide tersebut. Selanjutnya, infeksi bisa berkembang menjadi HUS. Urine akan bercampur dengan darah (hematuria), timbul gejala anemia, bahkan bisa terjadi disfungsi ginjal. Dialisis (cuci darah)  merupakan satu-satunya pilihan pengobatan yang diharapkan dapat memperpanjang usia.

Gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas biasanya mulai terlihat dalam 2-4 hari, bahkan dapat mencapai 8 hari setelah bakteri E. coli O 157:H7 menginfeksi sel tubuh. Tidak seperti pengobatan pada kasus-kasus infeksi bakteri pada umumnya, pengobatan dengan pemberian antibiotik justru dapat memperparah kondisi ginjal dan usus, karena dapat meningkatkan produksi toksin dan meningkatkan penyerapannya pada kedua organ tersebut. Tidak ada bukti yang memperlihatkan bahwa senyawa antibiotik yang diberikan dapat memperbaiki kondisi fisik penderita. Kebanyakan orang akan sembuh dengan sendirinya dalam 5 - 10 hari. Pemberian obat-obat antidiare seperti loperamide juga sebaiknya dihindari. Jadi, tindakan yang bisa dilakukan adalah berusaha memulihkan keseimbangan elektrolit tubuh dan menanggulangi gejala anemia yang muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar